Tentang Indonesia: Pamer dan Nyinyir di Sosial Media


Jadi, semalam aku lagi  buka blog salah satu social media influencer di Indonesia yang sesungguhnya aku emang nge-fans, bukan karena dia mirip banget sama artis Korea, tapi karena pemikirannya yang beda sekali dengan kebanyakan manusia di negara ini. Terus, aku baca postingan dimana dia membahas sebuah kesederhanaan.
"Kalo lo merasa ngeluarin 150,000 untuk sekali makan adalah hal yang normal, berarti ada yang salah sama lo."
Lalu yang merasa tersendir membalas, "Duit-duit gue, hak gue dong mau make buat apa."

Terus, gimana?
Kalo kata salah satu teman aku, yang langsung aku ajak diskusi soal ini, "Bener sih, tapi gue tetep pro-kontra sih sama omongan itu."
Dan emang iya sih, kalo menurut aku.

Setiap orang punya hak untuk memakai uangnya dengan caranya sendiri. Mau uang itu adalah hasil keringatnya sendiri, atau diberikan oleh orang tuanya; semua orang tetap punya hak untuk itu (I'm a certified Human Rights trainer from IFMSA, guys, I could never stop talking about everyone's rights haha). Mau dia pake uang dia buat jalan-jalan keliling dunia dengan private jet, fancy dining di SKYE, belanja tas ratusan juta rupiah - terserah, karena itu pilihan hidup orang masing-masing. Jadi kalo menurut aku, bukan disini letak permasalahannya.

Tapi lebih ke - apakah manusia-manusia ini memamerkan kekayaannya di sosial media.
Karena nggak semua orang punya standar hidup yang dimiliki oleh si selebgram-selebgram ini.
Karena nggak semua bisa membeli barang-barang yang selebgram ini tag-tag di foto OOTD-nya. @prada @marcjacobs @chanel (apalah aku yang masih berharap Primark buka cabang di Indonesia.)
Karena ngga semua orang bisa punya Fujifilm mirrorless, apple watch, barang-barang Supreme, ataupun Nike yang puluhan juta rupiah itu.
Karena nggak semua orang bisa fancy brunch di Bottega, afternoon tea di TWG, atau foto-foto OOTD di depan Union Senayan.

Dan karena orang-orang yang pamer inilah yang membuat sebagian orang-orang yang memiliki standar hidup berbeda menjadi nggak bersyukur dengan yang sudah mereka miliki dan memaksakan sesuatu yang sebenarnya mereka nggak mampu dan nggak butuh hanya untuk the approval of social standards.
Karena abis ngelihat si selebgram A makan di cafe yang itu, si netizen biasa minta uang sama mamanya supaya bisa ke cafe tersebut dan update di insta story. Tanpa sadar dalam hatiya, "Iniloh, gue juga gaul."
Karena abis ngelihat si selebgram B ke Bali sama pacarnya, si netizen juga pingin ke Bali, biar bisa update dengan hashtag #relationshipgoal.
Karena abis ngelihat si selebgram C bikin video haul dengan belanjaannya yang mahal-mahal sepulang dari Eropa, si netizen juga minta orang tuanya untuk liburan ke Eropa.

Hal-hal diatas sangat bisa dijustifikasi dengan quote, "It's not about the standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privileges as you." 

Dan akan menjadi lebih tepat apabila ditambah:  "It's not about the standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privileges as you and quitting your pathetic habit of showing whatever you wear off on your #ootd.

Aku dan temanku ini jadi berkesimpulan: andaikan kita-kita ini nggak suka pamer dan nggak suka nyinyir, mungkin media sosial akan selalu menjadi tempat aman dan damai yang memang fungsinya untuk bersosialisasi. Bukan untuk nyinyir, bukan untuk pamer kekayaan, bukan untuk debat politik ataupun agama. But sadly, those days are long gone. 

"Kok matiin comment section di Instagram?"
"Gue di nyinyirin nih, katanya gue pamer, gue sok kaya."
"Lo ngerasanya gimana emang? Lo ngerasa suka pamer dan sok kaya, nggak?
"Lah, suka-suka dong, uang gue ini. Kalo emang nggak suka ya unfollow aja, nggak usah nge-stalk. Sukanya nyinyir aja, dasar orang-orang iri."

yHA gimana dong, ini nih yang menurut aku orang-orang yang udah brainless, heartless pula.
Brainless; udah tau dong kalo kekayaan bukan untuk dipamerkan di sosial media. 
Heartless; nggak mau mengerti kalo yang mereka lakukan itu bisa menimbulkan orang yang iri yang dapat berujung hal-hal yang fatal (menipu, mencuri, memeras orang tua sendiri; supaya bisa belanja, makan cantik, jalan-jalan terus dibilang kaya).

Serba salah sih.
Satu sisi ini menyangkut hak dan pilihan hidup orang, tapi disatu sisi lainnya menyakut toleransi dalam kehidupan. Dan aku, personally, sangat setuju dengan Kakak Influencer ini yang mengajak untuk hidup sederhana. Aku jadi ingat zaman jahiliyah nan menjijikkan dulu, merasa ditampar kanan-kiri karena dulu aku pernah kena virus pingin-hits selama setahunan. Nyesel, kampung banget sih gue dulu, tapi yaudah itu masa lalu. Yang penting kan kedepannya, yakan?
Hiduplah sederhana. Bersyukur dan selalu merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
Sederhana; nggak usah pamer, nggak usah sok kaya, tapi ya nggak usah nyinyir juga. 


******************DISCLAIMER*****************

Sebelum di bully dan di judge kalo apalah akun herwandertales kalo bukan sebagai tempat untuk pamer foto jalan-jalan, aku mau bilang kalo akun (dan juga blog ini) adalah tempat dimana aku bisa dengan bebas mengekspresikan passion aku terhadap buku, tempat-tempat indah diluar sana dan rumah-rumah dengan pintu yang lucu. Kenapa aku berhenti nge-post di instagramku yang difollow sama teman-teman di dunia nyata dan malah pindah ke herwandertales? Karena orang-orang yang aku follow di herwandertales pun adalah orang-orang yang satu passion dengan aku: books and/or traveling. Untuk menghindari aku dari kesan pamer, untuk menghindari orang-orang yang mau nyinyir, makanya aku berhenti aktif di akunku yang asli. Aku ini kalo belanja masih di Primark, onlineshop atau yang diskonan juga, masuk ke Galleries Lafayette ya cuma foto-foto ceiling-nya aja, mau beli Pierre Hermes aja mikir tiga kali, begitu ke kota baru hanya mengandalkan kaki untuk keliling kota dan beli buah dan roti di supermarket terus makan di taman.

1 comment :

  1. there's this veeeery thin line between berbagi kebahagiaan dan pamer. dan itu sangat amat blur di zaman sekarang ini. i'm amen-ing the whole lot of this sentence "It's not about the standard for individuals. It's about recognizing that others may not have the same privileges as you." or having the same perspective. kadang aku ngerasa ada di 'kasta' yang beda sama temen2 bloggerku karena i live a very different life and pleasure than them tapi yaudah. they are happy dan aku gak nyinyirin kebahagiaan mereka pun udah cukup.

    buat aku balik lagi ya, semuanya balik ke kamu. mungkin cuma kamu/aku doang yang ngerasa kalo dia pamer, padahal dia nggak. one main rule to make your social media 'adventure' better: keep scrolling or look away. don't think too much. yang ngepost macem2 juga mungkin gak mikir haha

    apalah aku yang mau beli pablo cake aja mikir /beuh

    ReplyDelete